Jaga Kesucian Teknologi, Umat Hindu Rayakan Tumpek Landep


Umat Hindu Dharma di Bali, Sabtu (17/1), merayakan hari Tumpek Landep, persembahan suci yang khusus ditujukan untuk semua jenis benda yang berbahan baku besi, perak, tembaga dan jenis logam lainnya, antara lain keris dan senjata pusaka.

Kegiatan ritual yang menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga, dan buah-buahan dipersembahkan untuk berbagai jenis alat produksi dan aset.

Aset yang mendapat persembahan khusus pada hari yang istimewa bagi umat Hindu itu antara lain mesin, kendaraan, sepeda motor, dan alat teknologi lainnya dari bahan baku besi.

Upacara tersebut umumnya dilakukan di masing-masing rumah tangga dengan skala besar dan kecil sesuai kemampuan dari keluarga bersangkutan.

Semua itu bermakna untuk memohon keselamatan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata.

Kegiatan ritual yang berkaitan dengan Tumpek Landep, baik di masing-masing keluarga maupun perusahaan dan kantor, berlangsung sejak pagi hingga sore dan malam.

Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar Drs I Ketut Sumadi M Par mengatakan, Tumpek Landep juga merupakan pujawali Betara Siwa yang berfungsi melebur dan memralina (memusnahkan) untuk kembali ke asalnya.

Salah satu hari yang cukup diistimewakan umat Hindu itu berlangsung setiap 210 hari sekali. Masyarakat yang berprofesi sebagai petani mempersembahkan kurban suci ditujukan kepada alat-alat pertanian, baik berupa cangkul, sabit, maupun traktor.

Semua peralatan yang terbuat dari besi dan tembaga, termasuk mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya pada hari Tumpek Landep itu, diisi sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut "ceniga", "sampian gangtung", dan "tamiang".

Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Teknologi canggih, menurut Ketut Sumadi, harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali, yaitu "Tri Hita Karana", hubungan yang harmonis dan serasi dengan Tuhan, alam, dan sesama umat manusia.

Oleh sebab itu, seluruh peralatan yang dipakai umat manusia dalam mengolah isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau perak, harus tetap dijaga kesuciannya.

Dengan demikian, selamanya akan dapat digunakan dengan baik tanpa merusak alam. Masyarakat yang berprofesi sebagai petani, misalnya, akan merawat dan menjaga alat-alat pertaniannya dengan baik.

Sementara itu, ujar Ketut Sumadi, masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat berbagai peralatan dari bahan baku besi, baja, emas, dan perak (perajin) akan memelihara dan menjaga peralatannya agar tidak disalahgunakan untuk membuat benda-benda yang membahayakan kehidupan di alam semesta ini.

Sumber
END OF POST. THERE IS NO MORE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment? Sharing?